Kamis, 30 Januari 2014

Juara Pertama Modifikasi Ban Motor Ekstrim BSA

Juara Pertama Modifikasi Ban Motor Ekstrim BSA. Velg motor yang dibalut dengan Ban motor yang desainnya mantap dan tahan lama akan menjadikan motor enak dilihat. Soal harga Velg Motor Comet, DBS, TDR, TK Exel Racing dan Ban Motor FDR, MIZZLE, IRC, CORSA tak usah dihiraukan yang penting motor menjadi terlihat gagah. Terbukti di kontes otomotif kali ini mengusung tentang modifikasi Velg dan Ban Motor agar mecing, serta nice look (terlihat indah).

BSA, British Small Arm, sebuah merek dagang Inggris sejak pertengahan abad ke-19 hingga 1972 untuk sepeda motor kelas 350 – 500cc, hingga kini masih banyak digemari. Terutama bagi para kolektor. Setelah terjadi kebakaran besar-besaran pada pabriknya di Inggris pada 1972, BSA tidak lagi diproduksi. Namun produk motor yang dulu digunakan untuk keperluan pengangkutan persenjataan pasukan perang Inggris selain suplai makanan oleh pemilik perkebunan dan pengusaha partikelir ini, masih terlihat keberadaannya di antara jajaran sepeda-sepeda motor modern. Ini khususnya terjadi di Sumatra Utara. Lebih spesifik lagi di Pematang Siantar. Sejumlah BSA lalulalang di jalan-jalan Siantar sebagai kendaraan umum Betor (Becak Motor).

Suatu ketika, setelah cukup teracuni dengan berbagai desain dan informasi tentang modifikasi chopper dari berbagai medium komunikasi (internet, majalah, program TV, juga klub motornya) selama sekitar 2 bulan, Yoyong memutuskan merombak BSA original yang baru saja dibelinya.  Dengan mengusung aliran rangka rigid, bermodalkan 1 unit mesin BSA plus gear box dengan rangka yang sedikit dipotong, Yoyong memulai petualangan modifikasi ekstrimnya. “Jadi sekitar 75% handmade,” ujarnya. “Mulai dari stang, handgrab, tanki bensin dan oli, shockboard depan dan belakang, juga kotak aki semua handmade.” Yoyong memercayakan seluruh pengerjaan teknis atas konsep dan desain yang dibuatnya pada Udin, seorang pengrajin ukir besi sepeda motor di sebuah bengkel di kota Medan. Proses pengerjaannya, mulai dari mendesain, memereteli sampai selesai, dan bisa dikendarai memakan waktu sekitar 10 bulan.


http://www.bengkeluhuy.com/

Untuk motor hasil modifikasi pertamanya ini unsur kenyamanan tak terlalu difokuskan. Ia tak menambahkan shockbreaker untuk BSA yang aslinya berjenis M20 keluaran 1941 ini. Ini semata agar desain sayap belakang tak menempel dengan lingkar roda ban dengan velg berdiameter 15 cm dan velg depan 19 cm. Intinya memang mengedepankan penampilan dan kemampuannya untuk dikendarai dengan aman. Sebab di antara syarat-syarat sepeda motor yang diikutsertakan ke kontes adalah yang laik jalan secara normal, menggunakan mesin motor, dan keselarasan aksesori.


“Keselarasan aksesori terlihat juga dari konsistensi desain yang dibuat,” komentar Bengar Harahap, Ketua OMA (Old Motorcycles Association), klub motor yang diikuti Yoyong. Bengar sendiri, juga peraih Juara 1 Se-Sumatera Utara untuk kategori klasik original mix. “Mulai dari stang, penumpu kaki, dan detail yang lain pun memiliki desain yang konsisten,” imbuhnya. Ya, memang dengan demikian terlihat bahwa konsep desain Choki (Chopper Kita), sebutan yang dibuat Yoyong untuk si ekstrim berwarna kuning pepaya ini, begitu kuat. Single minded.


”Sebetulnya saya berkeinginan untuk memodifikasi Harley Davidson, tapi lantaran modal belum cukup saya memulainya dengan motor klasik Eropa.”  Tapi mengapa ia memilih BSA? ”Ya, sebetulnya kalau mau modifikasi, semua jenis motor bisa dimodifikasi hingga ekstrim, Modifikasi gaya chopper sebetulnya bisa dilakukan di semua jenis motor, bukan Harley Davidson saja, termasuk sepeda motor buatan Jepang atau Cina. Saya memilih BSA karena daya tahan mesinnya bagus, suaranya pun garang, meski masih di bawah Harley. Selain itu karena jenisnya klasik, sudah tak diproduksi lagi, sehingga sulit mendapatkan spare part. Ini menantang saya.” Meski begitu keinginannya untuk memodifikasi Harley tidak hilang. Suatu saat ia berniat melaksanakannya. Termasuk juga menyelesaikan Moki (Motor Kita), sebutan sepeda motor modifikasi ekstrimnya yang kedua, dan melaksanakan obsesinya membuat sepeda motor dengan mesin mobil. Sukses untuk Yoyong, Bengar, Pak Erizal Ginting, Mbah Lanang, serta kawan-kawan motor klasik Medan dan Siantar.

Share :